SEJUMLAH orang tua siswa dari tempat penitipan anak atau daycare Little Aresha menyambangi Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo di Rumah Dinas Wali Kota Yogyakarta, Minggu, 26 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Kedatangan mereka menemui wali kota menyusul penggerebegan dan penyegelan daycare itu oleh polisi sejak Jumat, 24 April lalu, karena diduga melakukan penganiayaan dan kekerasan kepada puluhan anak.
Para orang tua tersebut bertemu Hasto selama kurang lebih tiga jam untuk menceritakan apa yang dialami anak-anak mereka selama berada di tempat penitipan tersebut.
Norman Windarto, salah satu orang tua siswa yang turut hadir saat penggerebekan oleh pihak kepolisian, mengungkapkan berbagai fakta memilukan yang terjadi di balik tembok daycare tersebut.
"Mungkin kalau boleh disebut, daycare ini seperti camp yang lebih sadis dari penjara," ujar Norman.
Ayah yang sempat menitipkan dua anaknya di daycare tersebut membeberkan sederet kejanggalan yang ditemuinya selama ini. Termasuk dampak psikologis yang terlihat pada anaknya yang kini sering menunjukkan ketakutan, terutama saat akan dimandikan.
Ia menduga bahwa tangisan histeris anak bungsunya yang masih balita, setiap pagi, dari hari Senin hingga Jumat, merupakan indikasi adanya trauma. Sementara pada hari Sabtu dan Minggu sang anak bersikap normal dan tenang.
Selain trauma psikis, Norman menemukan berbagai luka fisik pada tubuh buah hatinya. Mulai dari memar di punggung, bibir, hingga area selangkangan.
"Tapi saat bekas luka itu saya tanyakan ke pengasuh di daycare, mereka selalu memberikan jawaban diplomatis,"
"Lebih seringnya cenderung menyalahkan orang tua bahwa bekas luka itu kondisi bawaan dari rumah atau menyebut karena terbentur saat sedang tidak diawasi," kata Norman yang heran karena ia sendiri yang memandikan dan mengecek tubuh anaknya.
Kejanggalan itu baru terjawab saat Norman melihat bukti video dari pihak kepolisian yang menunjukkan anak-anak dalam kondisi terikat tanpa busana, hanya mengenakan popok.
Ia menyaksikan beberapa anak diikat di tiang pintu dan ada pula yang dibedong secara paksa di atas lantai. Padahal janji awal fasilitas tersebut mencakup penggunaan kasur dan pendingin ruangan (AC).
"Kealpaan saya mungkin, karena tidak bertanya saat mendaftar, berapa anak yang ditampung di situ," kata dia.
Padahal, belakangan baru diketahui, kondisi ruangan diketahui pengap dan tidak layak karena menampung lebih dari 50 anak yang berusia mulai dari bayi hingga balita.
Kondisi penampungan daycare disebut sangat tidak layak, karena hanya berupa kamar-kamar sempit berukuran 3x3 meter yang salah satunya dipaksakan menampung 20 anak.
"Ruangan-ruangan sekecil itu tapi nekat menampung 50 orang lebih, bagi saya itu seperti sebuah camp sangat sadis," kata dia.
Norman mengaku memiliki dua orang anak yang dititipkan di sana dalam kurun waktu berbeda, yakni sejak 2022-2025 untuk anak pertama, dan anak kedua sejak usia tiga bulan hingga kini berusia 2,5 tahun.
Selama ini, ia mengaku terbuai oleh branding daycare yang terlihat sangat profesional dan meyakinkan dari pemiliknya. "Jujur branding-nya bagus sekali, body language pemiliknya saat menyambut anak sangat baik, bahkan mereka terlihat bisa menenangkan anak dengan cepat," kata dia.
Bahkan di pintu masuk, profil susunan organisasi daycare terlihat mentereng. Gelar pendidikan pengelola yang tercantum di depan pintu juga sangat lengkap, ada S2, perawat, hingga bidan, yang membuat para orang tua sangat yakin
Selain branding, Norman mengakui Little Aresha menjadi daycare yang bisa menawarkan layanan penjemputan yang fleksibel tanpa biaya tambahan
"Biaya bulanan sekitar Rp1 juta, sebuah penawaran yang sangat menarik bagi orang tua pekerja di Yogyakarta," kaya dia.
Namun, fleksibilitas itu dibayar mahal dengan pembatasan akses masuk, di mana orang tua hanya diperbolehkan mengantar jemput sampai depan pintu dengan alasan protokol kesehatan dan pencegahan virus.
Norman menambahkan bahwa anak keduanya kini hampir setiap bulan jatuh sakit. Harus dibawa ke dokter karena divonis pneumonia tanpa diketahui penyebab pastinya.
Atas terungkapnya kejadian ini, ia mendesak agar seluruh pihak yang terlibat, baik manajemen maupun pengasuh, dihukum berat.
"Harapan kami para pelaku dihukum setimpal, kalau bisa lebih dari lima tahun karena ini menyangkut keamanan anak-anak dan pembelajaran masyarakat agar tenang memilih tempat penitipan yang berizin dan memiliki akses terbuka bagi orang tua untuk memantau langsung," kata dia.
Dalam pertemuan tersebut, Wali Kota Hasto Wardoyo menyatakan keprihatinan mendalam atas dugaan kekerasan yang menimpa anak-anak di Daycare Little Aresha.
"Kami akan bersama orang tua untuk memastikan keadilan ditegakkan bagi para korban yang mendapatkan perlakuan tidak manusiawi," kata dia.
Hasto mengatakan bahwa secara operasional, setiap lembaga pendidikan baik TK, PAUD, maupun SD seharusnya memiliki prosedur perizinan dan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat.
Terkait status Little Aresha, ia menyebutkan bahwa jika sebuah lembaga menjalankan operasional pendidikan tanpa izin resmi, maka aktivitas tersebut sepenuhnya ilegal.
"Karena ilegal, maka seharusnya lembaga itu segera ditutup, begitu ketahuan tidak berizin mestinya sudah tidak boleh operasional," kata Hasto.
Selain persoalan izin, Wali Kota juga menyoroti adanya unsur dugaan penipuan dan pembohongan publik yang dilakukan pihak pengelola kepada para orang tua siswa.
Berdasarkan laporan yang ia terima, para orang tua merasa terjebak oleh informasi palsu terkait fasilitas dan layanan yang dijanjikan.
Untuk mengawal kasus ini, Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas PPA telah membentuk tim khusus yang melibatkan konsultan hukum.
Tim ini bertugas mencatat seluruh pelanggaran yang terjadi, baik dari sisi administratif maupun pidana, untuk dijadikan bahan masukan dalam proses hukum selanjutnya.
"Konsultan hukum mencatat semua proses pelanggaran yang ada, termasuk informasi dari orang tua yang merasa ditipu," kata dia.
Hasto memastikan bahwa selain proses pidana yang kini ditangani kepolisian, pihak pengelola juga terancam sanksi administratif berat. Pemerintah kota akan melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh yayasan dan tempat penitipan anak di Yogyakarta untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.
.png)












































