loading...
OJK menilai dampak dari adanya evaluasi indeks oleh S&P Dow Jones Index (DJI) yang mengancam turunkan klasifikasi pasar modal RI ke frontier market relatif lebih kecil. Foto/Dok
JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai dampak dari adanya evaluasi indeks oleh S&P Dow Jones Index (DJI) yang mengancam turunkan klasifikasi pasar modal RI ke frontier market relatif lebih kecil. Seperti diketahui belakangan pasar saham Indonesia tertekan setelah disorot oleh lembaga penyedia indeks global.
Setelah MSCI, kini giliran S&P Dow Jones Indices yang menempatkan pasar saham Indonesia sebagai salah satu negara yang berpotensi turun kasta ke dalam kategori pasar perbatasan (frontier market). Baca Juga: Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas, Modal Asing Bisa Kabur Rp3,6 Triliun
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi mengatakan, kalaupun ada outflow atau arus keluar modal asing, maka jumlahnya relatif tidak besar. Sebab aset kelolaan oleh indeks provider global itu punya porsi yang lebih kecil di Indonesia.
Sebab Hasan Fawzi mengatakan, dana kelolaan (asset under management/AUM) yang mengikuti indeks S&P dan berinvestasi di pasar saham Indonesia juga relatif lebih kecil dibandingkan dana yang mengacu pada indeks MSCI maupun FTSE.
"Kalau kita lihat memang dibandingkan dengan indeks provider lainnya seperti MSCI dan FTSE, besaran nilai total asset under management di bawah indeks S&P yang terkait dengan bursa kita relatif lebih kecil," kata Hasan saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, manajer investasi yang mengelola dana pasif wajib menyesuaikan portofolionya dengan komposisi indeks acuan. Oleh karena itu, arus dana baru akan terjadi apabila penyedia indeks memutuskan menghapus atau menurunkan bobot saham tertentu dalam indeksnya.
.png)

















































