INFO TEMPO – Akselerasi pemulihan Sumatra terus dikebut setelah pemerintah menetapkan Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Renduk) Pascabencana Sumatra. Sepanjang 28 Mei hingga 2 Juni 2026, Tim Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) menggelar rapat koordinasi serta meninjau sejumlah lokasi pembangunan infrastruktur di enam kabupaten/kota di Aceh.
Perwakilan Posko Nasional Satgas PRR, Imran, mengatakan tujuan kegiatan untuk melihat progres rehabilitasi dan rekonstruksi di lapangan. “Juga mempercepat pemulihan Sumatra sekaligus menyinergikan penanganan antarunit kerja,” kata Imran dalam laporan tertulis yang ditujukan untuk Kastgas PRR Tito Karnavian dan dibagikan ke Tempo, Kamis, 4 Juni 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Rangkaian kegiatan dimulai pada 28 Mei 2026 melalui peninjauan jalur Peureulak-Lokop di Kabupaten Aceh Timur untuk memastikan akses mobilitas masyarakat tetap fungsional pascalongsor. Selanjutnya pada 29 Mei, tim melanjutkan monitoring ke Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, sekaligus menggelar rapat bersama pemerintah daerah terkait percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Dalam kunjungan pada 2 Juni, Tim Satgas PRR Aceh bersama BPJN Aceh, BWS Aceh, Satker BP2JK Wilayah Lhokseumawe, dan PT Adhi Karya memantau pembangunan tanggul sungai, rehabilitasi jalan nasional, hingga pembangunan jembatan permanen di sejumlah titik terdampak.
Di Kabupaten Pidie, tim meninjau pemasangan bolder atau tanggul penahan di Krueng Baro, Kecamatan Keumala, sepanjang 252 meter. Pekerjaan yang menjadi tanggung jawab Balai Wilayah Sungai (BWS) Aceh itu telah melalui pengukuran subdrawing dan pemetaan menggunakan drone.
Sementara di Kabupaten Pidie Jaya, pemasangan bolder di Krueng Meureudu, kawasan Pante Geulima, sepanjang 375 meter telah rampung dikerjakan. Adapun sisa pekerjaan sepanjang 625 meter masih berlangsung.
Perbaikan tanggul jembatan Meureudu, Pidie Jaya, Provinsi Aceh. Dok. Satgas PRR
Terkait perbaikan tanggul di sekitar Jembatan Meureudu sepanjang 621,2 meter, saat ini BPJN sedang mengerjakan sisi kiri dan kanan sungai. Saat peninjauan berlangsung, muncul usulan penambahan pemasangan bolder dari semula 100 meter menjadi 200 meter yang akan dibahas lebih detail oleh pihak terkait.
Tim juga meninjau pemasangan bolder untuk perbaikan bendungan di Pante Lhong, Kabupaten Bireuen, sepanjang 425 meter yang masih dalam tahap pengerjaan. Sedangkan di Krueng Peusangan, material batu untuk pemasangan bolder mulai disiapkan dan pekerjaan direncanakan dimulai pekan depan.
Untuk infrastruktur penghubung, pembangunan Jembatan Kuta Blang di Krueng Tingkeum juga terus berjalan. Saat ini proses pengecoran tiang penyangga tengah dilakukan dengan target penyelesaian tahap utama pada 23 Juni 2026. “Pembangunan jembatan di ruas jalan nasional akan segera diproses kontraknya pada Juni dan mulai dikerjakan pada Juli,” kata Imran.
Tim Satgas PRR juga berkoordinasi dengan Pangdam Iskandar Muda terkait percepatan penyelesaian jembatan gantung di Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah. Dalam pertemuan pada Sabtu, 30 Mei 2026, Pangdam IM menyatakan siap menyelesaikannya setelah Idul Adha.
Berdasarkan laporan harian Satgas PRR per 4 Juni 2026, sebanyak 261 jembatan darurat dan perintis di seluruh wilayah Aceh terus dikejar pembangunannya. Dari total target tersebut, 142 unit jembatan telah rampung 100 persen dan sudah dapat dilalui masyarakat. Jembatan yang selesai ini terdiri dari 42 unit jembatan tipe Bailey dan 84 unit jembatan tipe Armco tangguh, serta 16 jembatan perintis.
Jembatan Bailey yang masih proses pengerjaan sebanyak 17 unit bentang bervariasi antara 30 hingga 90 meter. Beberapa di antaranya berada langsung di rute vital yang ditinjau tim, seperti Jembatan STA 83 Desa Lokop dan tiga titik di kawasan Leles, Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, serta Jembatan Reje Payung di Kabupaten Aceh Tengah.
Sementara jembatan Armco ada 20 unit yang masih berproses. Lokasinya tersebar di Aceh Utara, Aceh Timur, hingga wilayah Abdya yang pembangunannya sudah mendekati tahap akhir di angka 85 persen. Sedangkan khusus jembatan Perintis, sebanyak 83 unit masih dikejar penyelesaiannya oleh TNI dan Polri. (*)
.png)

















































