MASSA Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia atau BEM SI membawa bendera kuning ketika berdemonstrasi dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas setiap 2 Mei. Berdasarkan pantauan Tempo, sejumlah bendera kuning yang identik dengan simbol kematian itu di antaranya bertulisan “R.I.P (Rest in Peace) Pendidikan” hingga “Makan Beracun Gratis”.
Ratusan peserta aksi BEM SI tiba di kawasan Patung Kuda Arjuna Wijaya di Jakarta Pusat sekitar pukul 15.40 WIB. Mereka sebelumnya berjalan dari arah Balai Kota DKI Jakarta, tapi tertahan tepat di depan BSI Tower di Jalan Medan Merdeka Selatan. Peserta aksi sempat mendorong barikade yang dipasang kepolisian.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Para mahasiswa itu tampak mengenakan jaket almamater masing-masing. Selain membawa bendera kuning, peserta aksi membentangkan spanduk identitas BEM dan berbagai macam poster. Beberapa poster itu di antaranya bertulisan “Gelap Gulita Pendidikan” dan “Pendidikan hanya Dianggap Ternak”.
“Delapan kali kita ganti presiden, tapi delapan kali juga kita tidak pernah mampu menyelesaikan persoalan pendidikan,” kata salah satu orator dari atas mobil komando pada Sabtu, 2 Mei 2026.
Adapun massa BEM SI membawa 10 tuntutan dalam demonstrasi Hardiknas ini. Pertama, reformasi tata kelola anggaran pendidikan serta pemisahan anggaran pendidikan publik dengan kedinasan dan penghentian komersialisasi pendidikan berlebihan.
Kedua, BEM SI meminta pemerintah mengevaluasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 55 Tahun 2024 guna melindungi hak asasi korban kekerasan seksual di wilayah kampus.
Ketiga, BEM SI mendesak pemerintah pusat dan daerah menjadikan pendidikan prioritas substantif, bukan sekadar formalitas anggaran. Keempat, para mahasiswa menuntut pemerataan akses pendidikan berkualitas hingga ke daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), pelosok, serta menyasar kelompok rentan.
Kelima, BEM SI mendesak peningkatan kesejahteraan guru serta penyelesaian status guru honorer secara adil, transparan, dan bermartabat, serta pemerataan distribusi guru dan reformasi sistem rekrutmen guru. Keenam, menuntut rehabilitasi sekolah rusak dan pemenuhan sarana-prasarana pendidikan yang layak di seluruh Indonesia. Ketujuh, BEM SI mendesak kebijakan pendidikan yang konsisten, berbasis data, dan berorientasi jangka panjang.
Kedelapan, mendorong pendidikan karakter yang nyata, kontekstual, dan berakar pada nilai kebangsaan serta kearifan lokal.
Pada poin kesembilan, para mahasiswa menuntut transparansi dan pengawasan ketat terhadap seluruh penggunaan anggaran pendidikan. Kesepuluh, mereka mendesak revisi pembahasan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dengan melibatkan partisipasi masyarakat sipil.
.png)
















































