Pemerintah Kabupaten Jember Sepakati KerjaSama Sister City dengan Kota Jinhua.

7 hours ago 8

INFO TEMPO – Bupati Muhammad Fawait menyambut kedatangan Ye Su, Konsul Jenderal Republik Rakyat Cina yang berkantor di Surabaya, dan Yang Jian Ming, Wakil Ketua Komite Konferensi Konsultatif Politik Kota Jinhua di Pendapa Wahyawibawagraha, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa, 2 Juni 2026. Kedatangan mereka merupakan momentum bersejarah bagi Kabupaten Jember.

“Selamat datang di Kabupaten Jember dan semoga Bapak-Ibu semua bisa betah di Jember dan bisa kembali lagi ke Kota Jember tercinta ini,” kata Gus Fawait.

Dalam pertemuan itu, Pemerintah Kabupaten Jember menyepakati kerja sama Sister City dengan Kota Jinhua. Selama kurang lebih 18 menit, Gus Fawait memaparkan potensi Jember yang bisa dikerjasamakan dengan Jinhua. “Orang-orang pondok pesantren sudah mengenal istilah Uthlubul ilma walau bish-shiin. Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina,” kata dia.

Gus Fawait pun menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk membangun kerja sama yang saling menguntungkan dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Menurut dia, Jember memiliki berbagai potensi yang dapat menjadi fondasi kerja sama internasional. Jember memiliki kekuatan pada sektor pertanian, perkebunan, pendidikan, hingga industri kreatif.

Kabupaten ini merupakan salah satu lumbung pangan di Jawa Timur dengan komoditas unggulan seperti jagung, kopi robusta, edamame, okra, tembakau, dan cerutu yang telah menembus pasar ekspor. Kekuatan sumber daya alam ini ditopang kekuatan dunia pendidikan dengan kehadiran perguruan tinggi, sekolah, dan pondok pesantren.

Dengan potensi sebesar itu, Gus Fawait ingin kerja sama dengan Jinhua tidak hanya diarahkan pada urusan ekonomi. Sister City bukan semata status belaka. Dia ingin membuka peluang pengembangan kolaborasi yang lebih luas di sektor lain pendidikan, kesehatan, perdagangan, investasi, pengembangan usaha mikro kecil menengah, hingga pertukaran pengetahuan.

“Jadi bukan hanya Sister City, tapi Sister University, Sister School, maupun Sister Hospital yang bisa memperkuat hubungan masyarakat kedua kota sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” kata Gus Fawait.

Langkah Gus Fawait ini diapresiasi Guru Besar Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember, Agus Trihartono. Menurut dia, pemerintah daerah saat ini memiliki peran yang semakin besar dalam membangun kerja sama lintas negara. “Dan saya kira hubungan Indonesia dan Tiongkok akan menjadi salah satu hubungan paling penting di Asia pada abad ke-21,” kata Agus.

Kerja sama ini, lanjut Agus, adalah investasi kepercayaan. Hasilnya akan terlihat pada masa mendatang, bahkan saat pemerintahan Bupati Fawait berakhir. “Hubungan yang dirawat baik sering kali baru menunjukkan nilainya lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun kemudian,” katanya.

Sementara itu, Irfan Kharisma Putra, akademisi Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang, mengatakan, banyak daerah di Indonesia memiliki potensi. “Namun tidak semua daerah mampu membuat dunia datang untuk melihat potensinya secara langsung.”

Kehadiran delegasi Cina, kata dia, menunjukkan bahwa Jember mulai diperhitungkan. “Jember bukan lagi daerah pinggiran yang hanya dikenal sebagai kota tembakau atau kota pendidikan.”

Menurut Irfan, Jember kini bisa dipandang sebagai kawasan dengan peluang ekonomi, pertanian modern, industri kreatif, pariwisata, serta sumber daya manusia yang memiliki daya saing global.

Irfan pun menilai Bupati Fawait berhasil menyampaikan semua potensi itu dengan kemampuan artikulatif yang terjaga, mulai dari cara menyambut dan berpidato di hadapan delegasi Cina. “Tidak ada gestur yang menunjukkan inferioritas. Tidak ada bahasa tubuh yang menunjukkan ketergantungan.”

Irfan melihat Gus Fawait cukup percaya diri untuk memahami bahwa hubungan internasional harus dibangun di atas prinsip kesetaraan. “Jabat tangannya tegas.Tatapannya penuh keyakinan. Posisi tubuhnya. Dalam perspektif komunikasi bilateral modern, simbol-simbol nonverbal tersebut memiliki makna yang sangat kuat.”

Menurut Irfan, dengan gesture tubuh itu, Gus Fawait hendak mengatakan bahwa Jember hadir bukan sebagai pihak yang meminta-minta, namun sebagai mitra. “Jember hadir sebagai daerah yang memiliki nilai dan siap tumbuh bersama,” kata dia.

Dan hal itu menurut dia penting, karena kerja sama internasional tak hanya melihat angka statistic keunggulan komparatif. Lebih dari itu, diperlukan komunikasi yang dibangun atas dasar saling menghormati, saling menguntungkan, dan saling percaya. “Karena pada akhirnya, investor maupun mitra internasional melihat kepemimpinan, keberanian mengambil keputusan, dan semua itu hadir dalam diri Gus Fawait,” kata Irfan. (*)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online