INFO TEMPO - Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menargetkan penyelesaian Peraturan Wali Kota (Perwal) terkait Bantuan Operasional (BOP) RT senilai Rp25 juta per unit dalam tiga minggu ke depan. Langkah ini diambil di tengah pembahasan Panitia Khusus DPRD Kota Semarang mengenai alokasi anggaran BOP RT sebesar Rp265,7 miliar.
Di balik percepatan regulasi tersebut, Pemerintah Kota Semarang menegaskan bahwa manfaat program BOP RT sejatinya sudah dirasakan masyarakat sejak tahun pertama pelaksanaan. Program ini tidak hanya mencatat serapan anggaran tinggi, tetapi juga menghadirkan dampak nyata di tingkat lingkungan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Kami ingin memastikan dana ini benar-benar dirasakan warga, bukan sekadar administratif. Dan faktanya, manfaat itu sudah ada,” ujar Agustina di Balai Kota Semarang, Jumat, 17 April 2026 lalu.
Data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Semarang mencatat sejumlah dampak konkret sepanjang 2025. Di antaranya peningkatan kualitas layanan posyandu, revitalisasi kegiatan gotong royong, serta dukungan terhadap program kebersihan lingkungan seperti pemilahan sampah dan perawatan saluran air skala kecil.
Ketua RT di wilayah Ngaliyan, Sutriyoso, mengungkapkan bahwa dana BOP memungkinkan warga lebih aktif dalam kegiatan kebersihan dan perbaikan lingkungan. Hal senada disampaikan Wahab Sya’roni yang menyebut kegiatan posyandu kini berjalan lebih rutin dan terorganisir.
Tingkat serapan program yang mencapai 95,6 persen menjadi indikator kuat bahwa dana tersebut dibutuhkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Dari total 10.621 RT, sebanyak 10.157 RT telah memanfaatkan BOP, sementara sisanya tidak mengambil karena alasan internal.
Menanggapi kritik Panitia Khusus DPRD terkait indikator makro seperti penurunan stunting atau kasus DBD, Pemkot Semarang menilai bahwa dampak tersebut membutuhkan waktu. Namun, fondasi perubahan telah terlihat melalui meningkatnya partisipasi warga, kebersihan lingkungan, serta aktivitas sosial di tingkat RT.
“Manfaat makro memang tidak bisa instan, tetapi gerak perubahan sudah terlihat. Posyandu lebih aktif, lingkungan lebih bersih, dan gotong royong kembali hidup,” jelas Agustina.
Perwal yang tengah disusun bukan untuk mengubah arah program, melainkan menyempurnakan fleksibilitas penggunaan dana, termasuk kemungkinan pemanfaatan untuk kebutuhan infrastruktur ringan seperti perbaikan drainase lingkungan.
Dengan capaian serapan tinggi, respons positif masyarakat, serta komitmen pemerintah dalam menyempurnakan regulasi, program BOP RT di Semarang dinilai sebagai investasi sosial yang mulai menunjukkan hasil nyata di tingkat akar rumput.(*)
.png)














































