Quiet Covering, Ketika Karyawan Gen Z Menyembunyikan Jati Diri Pribadi di Tempat Kerja

23 hours ago 11

Tahukah Bunda mengenai tren quiet covering di dunia kerja?  Fenomena baru diberbagai industri terus bermunculan seiring perubahan generasi. Salah satu yang kini mulai mendapat perhatian adalah quiet covering, sebuah istilah yang menggambarkan kecenderungan karyawan, khususnya Generasi Z untuk menyembunyikan aspek tertentu dari diri mereka di lingkungan profesional.

Tren ini bukan sekadar gaya beradaptasi, melainkan cerminan tekanan sosial dan budaya kerja yang semakin kompleks. Berbeda dengan tren sebelumnya seperti quiet quitting, quiet covering berjalan lebih halus dan sering kali tidak terlihat.

Hanya saja, dampaknya bisa signifikan, baik bagi Bunda maupun perusahaan. Banyak pekerja muda memilih 'menutup' sebagian identitasnya demi menghindari penilaian negatif, stereotip, atau meningkatkan peluang karier.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Yuk bahas mengenai tren quiet covering di dunia kerja.

Apa itu quiet covering di dunia kerja?

Istilah quiet covering sendiri pertama kali diperkenalkan oleh profesor hukum Kenji Yoshino yang menjelaskan praktik menyembunyikan identitas pribadi agar dapat diterima dalam lingkungan tertentu. Dalam konteks pekerjaan, hal ini mencakup upaya menekan aspek seperti latar belakang budaya, orientasi pribadi, kondisi kesehatan, hingga pandangan tertentu.

Survei terbaru terhadap 2.000 karyawan dari berbagai industri menunjukkan bahwa fenomena ini semakin meluas. Sebanyak 58 persen responden mengaku menyembunyikan kekurangan keterampilan mereka untuk menghindari penilaian negatif.

“Apa yang sebenarnya berada di balik banyak hal yang kita lihat saat ini adalah sesuatu yang bahkan kurang terlihat, yaitu quiet covering," ujar Tia Katz, pendiri Hu-X, dilansir dari Forbes.

Hampir setengah responden juga mengaku pernah berpura-pura memahami sesuatu di tempat kerja. Sementara 40 persen memilih tidak meminta bantuan meski mengalami kebingungan. Katz menyebut bahwa tren ini merupakan bagian dari dinamika baru di dunia kerja.

Setelah sebelumnya muncul istilah quiet quitting, kini hadir pula konsep quiet cracking, yakni kelelahan emosional yang memicu burnout dan penarikan diri. Namun menurutnya, akar dari semua itu sering kali adalah quiet covering yang lebih tersembunyi.

“Tiga tahun lalu kita membicarakan quiet quitting, tapi sekarang kita mulai mengenali hal lain, yaitu quiet cracking, keausan emosional yang muncul dalam bentuk kelelahan, penarikan diri, dan ketidakterlibatan yang halus," papar Katz.

Mengapa karyawan melakukan quiet covering?

Penelitian gabungan Hu-X dan HiBob mengungkap bahwa 97 persen karyawan pernah melakukan quiet covering setidaknya sesekali dan 67 persen melakukannya secara rutin. Alasannya beragam, mulai dari menjaga citra profesional (55 persen), mencari penerimaan sosial (48 persen), hingga menghindari diskriminasi (46 persen).

Selain itu, banyak karyawan juga melakukannya demi meningkatkan peluang promosi, kenaikan gaji, atau penilaian kinerja yang lebih baik. Praktik ini paling sering terjadi dalam interaksi dengan atasan atau manajer langsung yang dianggap memiliki pengaruh besar terhadap karier mereka.

Contoh nyata pun beragam. Ada karyawan yang menyembunyikan usia karena merasa lebih tua dari rekan kerja, sebagian menutup identitas pribadi atau kondisi kesehatan tertentu demi menghindari stigma.

Sebagian pekerja bahkan mengaku tidak jujur soal hal-hal sensitif demi menjaga posisi mereka.

Gen Z dan quiet covering: strategi atau tekanan?

Gen Z disebut sebagai kelompok yang paling sering melakukan quiet covering. Studi menunjukkan bahwa mereka dua kali lebih mungkin menyembunyikan identitas dibandingkan generasi sebelumnya. Sebanyak 56 persen dari mereka mengaku melakukannya saat berinteraksi dengan tim HR.

Hampir setengah Gen Z juga menyembunyikan masalah kesehatan mental, kebiasaan perawatan diri, atau pengalaman pribadi agar tetap terlihat profesional. Fenomena yang dikenal sebagai 'Gen Z stare', ekspresi datar yang sering dianggap tidak antusias ternyata bisa menjadi bentuk perlindungan diri.

Menurut Katz, ekspresi tersebut bukan tanda ketidakpedulian, melainkan strategi sadar untuk menghadapi tuntutan kerja yang tinggi. Budaya kerja yang menuntut kepercayaan diri, keterlibatan emosional dan antusiasme tinggi membuat banyak pekerja muda memilih untuk menjaga jarak secara nonverbal.

Dampak quiet covering terhadap kinerja

Meski terlihat sebagai strategi aman, quiet covering memiliki konsekuensi serius. Studi menunjukkan bahwa praktik ini dapat memicu stres tingkat sedang hingga berat pada 64 persen karyawan.

Selain itu, produktivitas dan efisiensi kerja juga menurun pada lebih dari separuh responden. Quiet covering juga berdampak pada keterlibatan kerja, kreativitas, dan inovasi.

Banyak karyawan merasa energi mereka habis untuk 'mengatur persepsi' daripada benar-benar bekerja secara optimal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menghambat perkembangan karier dan menurunkan performa secara keseluruhan.

Dampaknya bahkan merembet ke kehidupan pribadi. Sebanyak 43 persen responden mengaku kondisi ini memengaruhi kehidupan di luar pekerjaan. Hal itu menunjukkan bahwa tekanan yang dirasakan tidak berhenti di kantor.

Penggunaan AI secara diam-diam

Fenomena quiet covering juga terlihat dalam penggunaan teknologi. Studi lain menemukan bahwa banyak karyawan Gen Z menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu pekerjaan, seperti merangkum rapat atau menghasilkan ide, namun dilakukan tanpa sepengetahuan atasan.

Alasannya cukup jelas, yakni ketakutan akan kehilangan pekerjaan. Sebanyak 47 persen Gen Z dan Milenial khawatir AI dapat menggantikan peran mereka.

Selain itu, kurangnya pemahaman terhadap kebijakan perusahaan terkait AI membuat mereka memilih menggunakan alat pribadi secara diam-diam. Namun praktik ini berpotensi menimbulkan risiko keamanan bagi perusahaan, terutama jika melibatkan data sensitif.

Tantangan bagi perusahaan

Fenomena quiet covering menjadi sinyal penting bagi perusahaan. Ketika karyawan merasa harus menyembunyikan diri demi bertahan, hal ini menunjukkan adanya tekanan budaya kerja yang perlu dievaluasi.

Katz menekankan bahwa perusahaan sebaiknya melihat fenomena ini sebagai bentuk umpan balik, bukan perlawanan. Generasi muda menginginkan ruang untuk menentukan batas antara kehidupan pribadi dan profesional tanpa takut dinilai.

Jika originalitas dianggap sebagai kelemahan, perusahaan justru berisiko kehilangan potensi besar dalam hal kreativitas, inovasi, dan produktivitas. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan aman secara psikologis menjadi kunci untuk menghadapi tren ini.

"Mereka ingin dilihat dan dihargai apa adanya, serta diakui atas kontribusi unik yang mereka berikan," ujar Katz.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online