Tak Usah Panik Bun, Segera Lakukan Ini bila ASI Tiba-tiba Seret

11 hours ago 9

Jakarta -

Ibu menyusui biasanya akan selalu berusaha menjaga produksi ASI. Namun, bila ASI tiba-tiba seret, tak perlu panik ya. Pada waktu tertentu, mungkin Bunda pernah merasa produksi ASI lebih sedikit dari biasanya. Kondisi tersebut sangatlah wajar dan masih dapat diatasi, sehingga tak perlu dikhawatirkan, Bunda.

Menurunnya pasokan ASI merupakan fase yang kerap terjadi pada masa menyusui. Memang kondisi ini dapat dikaitkan dengan berbagai hal, mulai dari yang biasa, seperti fase krisis menyusui, hingga yang lebih serius, seperti komplikasi hormonal.

Namun, para ahli mengatakan bahwa umumnya kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Hal ini disebabkan karena tubuh biasanya akan melakukan penyesuaian produksi ASI terhadap kebutuhan bayi terlebih dahulu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Oleh karena itu, tenang menjadi kunci agar kegiatan menyusui tetap berjalan lancar. Apabila membutuhkan cara untuk meningkatkan produksi ASI, simak informasi lengkapnya berikut ini, yuk.

Faktor penyebab ASI tiba-tiba seret

Melansir dari La Leche League Canada, penyebab paling umum dari menurunnya pasokan ASI adalah pelekatan dan hisapan yang kurang baik. Apabila pelekatan tidak dilakukan dengan baik maka bayi tidak akan mendapatkan cukup ASI dan puting Bunda akan lecet.

Selain itu, terdapat beberapa penyebab lain yang dapat membuat ASI seret meliputi:

  • Pengeluaran ASI yang tidak efektif: Selain masalah pelekatan dan hisapan, kondisi lain seperti bayi yang memiliki lidah pendek juga dapat menghambat kelancaran produksi ASI Bunda. 
  • Pemberian ASI yang terjadwal: Membatasi pemberian ASI di hari-hari dan minggu-minggu awal dapat menurunkan produksi ASI di kemudian hari. Lebih baik Bunda rutin memberikan ASI saat Si Kecil lapar daripada menjadwalkannya berdasarkan waktu.
  • Pemberian susu formula: Penggunaan susu formula selama beberapa minggu pertama dapat mengurangi produksi ASI. Jika bayi perlu diberi susu formula tambahan, penting bagi Bunda untuk memompa ASI agar produksinya tetap terjaga.
  • Komplikasi hormonal: Kondisi ini disebut juga sindrom ovarium polikistik (PCOS) atau kelainan tiroid yang dapat memengaruhi produksi ASI.
  • Operasi payudara: Saluran susu atau saraf yang dipotong setiap operasi payudara dapat memengaruhi produksi ASI Bunda. Operasi tersebut meliputi operasi pengecilan payudara, operasi dada, atau pengangkatan jaringan payudara.

Tanda payudara kekurangan ASI

Fluktuasi atau naik-turunnya produksi ASI merupakan hal yang wajar. Namun, Bunda juga perlu mengenali tandanya saat produksi menurun sehingga bayi tidak akan kekurangan asupan. Berikut beberapa tanda kekurangan ASI yang perlu Bunda ketahui:

1. Berat badan bayi tidak bertambah atau memburuk

Sebagian besar bayi harus kembali ke berat lahirnya pada usia dua minggu dan akan terus bertambah sebanyak 5-7 ons per minggu. Bila bayi tidak mencapai target tersebut, maka ada hal yang harus diperhatikan.

2. Produksi feses dan urine tidak memadai

Pada bayi yang berusia satu minggu, mereka harus memiliki setidaknya 6-8 popok basah dalam sehari. Sementara untuk feses, sekitar 3-5 dalam sekali pup. Jika popok basah sangat sedikit dan jumlah feses sangat sedikit, maka Bunda perlu mewaspadainya.

Cara mengatasi ASI tiba-tiba seret

Tak perlu overthinking, Bunda. Menurunnya pasokan ASI tetap dapat diatasi. Berikut beberapa cara dalam meningkatkan pasokan ASI yang menurun, dikutip dari laman The Lactation Network:

  • Bangun pasokan ASI yang sehat sejak awal: Agar menyusui dapat berjalan lancar ke depannya, cobalah memompa ASI atau menyusui dalam satu jam pertama setelah melahirkan. Kegiatan ini dapat merangsang keluarnya kolostrum yang nantinya akan menjadi ASI.
  • Lebih fleksibel dalam menyusui: Alih-alih memaksakan pemberian ASI yang sesuai jadwal, Bunda dapat memberikan ASI di saat bayi lapar (fleksibel). Oleh karenanya, Bunda perlu memperhatikan tanda-tanda lapar pada bayi.
  • Menyusui dengan konsisten dengan kedua payudara: Bunda dianjurkan untuk membiarkan bayi menyelesaikan menyusui di payudara sisi pertama terlebih dahulu, kemudian baru tawarkan sisi lainnya. Jika tertidur di payudara pertama, bangunkan dan tawarkan payudara kedua. Disarankan bayi untuk menyusu pada tiap payudara selama 15 menit.
  • Pompa ASI di antara sesi menyusui: Setelah sesi menyusui, ASI tidak sepenuhnya kosong, justru produksi ASI berada pada puncaknya. Oleh karena itu, menyusui bayi lebih sering dan memompa ASI secara teratur di antara sesi menyusui dapat meningkatkan produksi ASI.
  • Tetapkan jadwal memompa sejak dini: Setiap orang tua dan bayi memiliki pola menyusui yang berbeda. Maka dari itu, membuat jadwal yang sesuai menjadi salah satu langkah agar pasokan ASI stabil dan tidak berkurang.

Demikian penjelasan mengenai cara mengatasi ASI yang tiba-tib seret selama menyusui Si Kecil. Semoga informasi ini bermanfaat, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online