Riset Unair: Air Galon Guna Ulang Tak Picu Gangguan Hormon dan Kanker

9 hours ago 7

INFO TEMPO - Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair) meneliti hubungan antara konsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) dari galon guna ulang berbahan polikarbonat (PC) dengan berbagai keluhan kesehatan.

Penelitian ini menganalisis pola konsumsi masyarakat, kandungan Bisphenol A (BPA) pada 10 merek AMDK yang paling banyak dikonsumsi, serta kaitannya dengan gangguan kesehatan yang dilaporkan responden. Hasilnya, penelitian tidak menemukan hubungan antara konsumsi air dari galon guna ulang berbahan PC dengan gangguan hormon, reproduksi ataupun risiko kanker.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Penelitian tersebut menunjukan bahwa risiko gangguan hormon akibat BPA yang ditemukan pada seluruh sampel air minum adalah rendah. Sebab, BPA yang terdeteksi masih berada di bawah nilai ambang aman yang ditetapkan BPOM maupun batas Tolerable Daily Intake (TDI) dari Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA).

Dalam penelitian tersebut, seluruh sampel AMDK yang diuji mengandung BPA pada kadar yang masih jauh di bawah ambang batas aman. Konsentrasi BPA tertinggi tercatat sebesar 0,099 μg/L, sedangkan yang terendah 0,080 μg/L. Nilai tersebut masih jauh di bawah batas aman yang ditetapkan BPOM, yakni 0,6 mg/kg.

Analisis risiko kesehatan juga menunjukkan seluruh merek AMDK yang diteliti masih berada dalam kategori aman. Baik risiko non karsinogenik, risiko karsinogenik, maupun hasil evaluasi aktivitas estrogenik (EEQ) seluruhnya masih berada dalam batas aman.

Dari hasil penelitian tersebut, masyarakat tak perlu khawatir apalagi panik saat menggunakan galon PC karena air di dalamnya terbukti masih aman secara nyata dan ilmiah. Meski demikian, konsumen tetap harus memperhatikan dan lebih bijak dalam menyimpan serta memperlakukan galon PC guna lebih meminimalisir migrasi yang terjadi.

Terkait migrasi BPA, dokter spesialis penyakit dalam Laurentius Aswin Pramono mengungkapkan bahwa BPA akan keluar dari tubuh apabila terkonsumsi. Dia menjelaskan, tubuh memiliki mekanisme super canggih untuk mengeluarkan zat-zat berbahaya yang secara tidak sengaja masuk ke dalam badan.

Ia melanjutkan, tubuh akan mendetoksifikasi atau mengurai partikel BPA yang masuk melalui liver atau hati, lalu mengeluarkannya melalui urine dan keringat. Detoksifikasi ini membuat paparan BPA tidak sampai terakumulasi dalam tubuh sehingga tidak akan menyebabkan gangguan terhadap kesehatan.

"Dalam berbagai studi tentang BPA, paparan bahan kimia yang tidak kita konsumsi secara sengaja kecil sekali kemungkinan untuk mencapai kadar yang mengganggu kesehatan," katanya.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) juga mengatakan bahwa semua BPA yang masuk bisa diekskresikan atau dikeluarkan secara alamiah dari dalam tubuh. Hal tersebut disampaikan WHO dalam forum panel yang beranggotakan 30 pakar dari Kanada, Eropa dan Amerika Serikat. (*)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online