Riset FKM Unair: BPA pada Galon Guna Ulang Berkaitan dengan Risiko Alergi

11 hours ago 2

INFO TEMPO – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) menemukan adanya korelasi yang signifikan secara statistik antara konsumsi air minum dalam kemasan yang mengandung Bisphenol A (BPA) dengan peningkatan Risiko riwayat alergi atau hipersensitivitas pada orang dewasa. Temuan itu terdapat dalam artikel ilmiah yang diterbitkan oleh jurnal AIMS Environmental Science edisi 2025.

“Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara paparan BPA melalui konsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) dengan gangguan imunosupresif,” catat tim peneliti pada artikel ilmiah itu.  

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

BPA merupakan bahan kimia industri yang umum digunakan dalam pembuatan plastik keras polikarbonat, termasuk galon air minum isi ulang. Selama ini, perdebatan publik mengenai bahaya BPA lebih banyak menyoroti risiko kanker atau gangguan reproduksi. Namun, dampak bahan kimia ini pada sistem kekebalan tubuh kerap luput dari perhatian.

“Selama lebih dari satu dekade terakhir, cukup banyak penelitian eksperimental maupun epidemiologi yang melaporkan bahwa pajanan BPA berpotensi memengaruhi sistem imun,” kata Dr. Sudarmaji, Dosen Departemen Kesehatan Lingkungan FKM Unair sekaligus anggota tim riset.

Menurut dia, hasil dari penelitian mereka bisa menjadi tambahan bukti ilmiah, khususnya dari Indonesia. “Bahwa pajanan BPA melalui air minum dalam kemasan layak terus dipantau sebagai isu kesehatan lingkungan,” ujar dia.

Penelitian melibatkan 96 responden dewasa dari Kelurahan Tambak Wedi, Surabaya dengan rata-rata konsumsi sekitar dua liter air per hari selama kurang lebih 31 tahun. Pengujian laboratorium terhadap 10 merek air kemasan galon yang beredar menunjukkan bahwa seluruhnya mengandung BPA, dengan kadar tertinggi mencapai 0,099 µg/L. 

Penelitian ini mencatat adanya korelasi positif dengan gangguan imunosupresif berupa riwayat hipersensitivitas. Sudarmaji menjelaskan bahwa secara biologis, BPA diduga dapat meningkatkan stres oksidatif dan memicu proses inflamasi. “Akibatnya, pada individu tertentu, respons imun dapat menjadi tidak seimbang sehingga lebih mudah muncul reaksi hipersensitivitas atau alergi,” tutur dia.

Potensi gangguan ini, kata Sudarmaji, perlu dilihat dalam konteks paparan jangka panjang. “Rata-rata responden mengonsumsi sekitar dua liter air per hari dengan durasi konsumsi sekitar 31 tahun. Pajanan kumulatif jangka panjang tetap perlu menjadi perhatian,” ujar dia. Sudarmaji juga mengingatkan bahwa kelompok yang paling rentan terhadap efek imunotoksik ini adalah janin, bayi, anak-anak, ibu hamil, dan individu yang sistem imunnya belum matang atau sedang mengalami gangguan.

“Temuan ini menjadi sinyal ilmiah bahwa pajanan BPA tetap perlu dikendalikan, terutama melalui pengawasan mutu kemasan pangan, edukasi masyarakat, dan penelitian lanjutan,” kata Sudarmaji. (*) 

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online