INFO TEMPO – Pemulihan Bendung Irigasi Pante Lhong di Kabupaten Bireuen kini memasuki tahap lanjutan. Setelah penanganan darurat berhasil memulihkan fungsi hidrolis bendungan di awal Juli 2026, pemerintah mengalihkan fokus pada rehabilitasi jaringan irigasi agar layanan air bagi sekitar 15.000 hektare sawah dapat pulih secara bertahap.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan pekerjaan pada bendungan utama saat ini masih berlangsung dan ditangani oleh PT Adhi Karya. “Secara fungsional, bendungan telah kembali mengalirkan air, sementara penyelesaian pekerjaan ditargetkan rampung pada September 2026,” tulisnya dalam pesan yang disampaikan untuk Kasatgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRR) Sumatera, Tito Karnavian, Senin, 13 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut Dody, fase penanganan darurat yang difokuskan pada pemulihan fungsi bendungan, telah selesai. Saat ini, fokus Kementerian PU yang menjadi bagian dari Satgas PRR adalah memastikan air dapat didistribusikan ke seluruh kawasan pertanian yang selama ini bergantung pada sistem irigasi Pante Lhong. Salah satu cara dengan pengerukan sedimen dan perbaikan struktur saluran untuk mengoptimalkan distribusi air.
Pemerintah telah membagi penanganannya berdasarkan kewenangan masing-masing agar proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan terkoordinasi. Jaringan irigasi seluas sekitar 6.500 hektare yang menjadi kewenangan pemerintah pusat telah masuk dalam Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Tahun 2026.
Sedangkan sekitar 8.500 hektare lainnya yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten dijadwalkan ditangani melalui Program Instruksi Presiden (Inpres) Irigasi Daerah. “Semua pekerjaan fisik ditargetkan mulai berjalan pada Juli ini,” kata Dody.
Seperti diketahui, banjir bandang yang menerjang Kabupaten Bireuen pada November 2025 mengubah alur Sungai Krueng Peusangan dan menimbun Bendungan Irigasi Pante Lhong dengan material sedimen. Pergeseran aliran sungai membuat pasokan air menuju bendungan terputus, sehingga layanan irigasi bagi ribuan hektare sawah di sejumlah kecamatan ikut terdampak.
Di awal 2026, Kementerian PU melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera I melakukan penanganan darurat. Tahap awal difokuskan pada normalisasi alur sungai, pembangunan tanggul sementara (cofferdam), pembersihan sedimen, serta pemulihan struktur bendung agar aliran air dapat kembali mencapai bangunan utama.
Hasil pekerjaan tersebut mulai terlihat pada pertengahan tahun. Memasuki Juli 2026, fungsi hidrolis bendung berhasil dipulihkan sehingga air kembali mengalir ke bendungan. Namun, distribusi air ke areal persawahan belum optimal karena sebagian jaringan irigasi di hilir masih rusak dan tertutup sedimen akibat banjir. Karena itu, pemulihan kini memasuki tahap lanjutan hingga nantinya dapat kembali mengairi 15.000 hektare lahan persawahan.
Percepatan pemulihan Bendung Pante Lhong juga menjadi perhatian Satgas PRR Sumatera. Saat meninjau lokasi pada Kamis, 9 Juli silam, Kepala Pos Komando Angkutan dan Transformasi, Laksmana TNI Nouldy Tangka menegaskan bahwa percepatan rehabilitasi bendungan dan jaringan irigasi menjadi langkah penting untuk mengembalikan produktivitas pertanian di Kabupaten Bireuen.
Upaya percepatan ini selaras dengan komitmen Kasatgas PRR Sumatera Tito Karnavian yang menaruh perhatian besar pada kondisi masyarakat terdampak agar kembali normal dan produktif. “Pemulihan sektor pertanian menjadi salah satu prioritas utama,” ucapnya pada Maret silam. “Pasti saya kawal.” (*)
.png)














































