Pemerintah Buka Opsi Regrouping Sekolah yang Siswanya Minim

3 hours ago 5

KEMENTERIAN Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membuka peluang penggabungan sekolah dasar (SD) negeri yang mengalami penurunan jumlah siswa secara terus-menerus.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat mengatakan, penurunan jumlah siswa baru terjadi di sejumlah daerah, termasuk Jakarta. Pemerintah, kata dia, akan melakukan penggabungan atau regrouping terhadap sekolah yang terus mengalami penurunan jumlah siswa.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Jumlah siswa SD-nya itu berkurang dengan berbagai alasan. Oleh karena itu, kami punya kebijakan untuk sekolah-sekolah SD yang memang terus menurun dari jumlah siswanya, maka sekolah itu akan di-regrouping. Umpamanya dari tiga menjadi satu," kata Atip saat ditemui di sela kunjungan ke sekolah di Jakarta Barat, Senin, 13 Juli 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan Atip merespons kondisi SDN Grogol Utara 05 Pagi, Jakarta Selatan, yang hanya menerima 30 siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027. Jumlah tersebut lebih rendah dari daya tampung yang disediakan yang mencapai dua rombongan belajar (rombel).

Menurut Atip, penurunan jumlah siswa SD tidak hanya terjadi di Jakarta, melainkan juga di sejumlah daerah lain. Penyebabnya pun beragam, sehingga pemerintah akan melihat kondisi masing-masing sekolah.

Atip enggan mengungkap data dan penyebab penurunan jumlah siswa tersebut. Ia hanya mengatakan fenomena penurunan jumlah siswa di beberapa daerah mengalami kondisi yang berbeda-beda. Ada wilayah yang mengalami kelebihan siswa, tetapi ada pula yang kekurangan peserta didik.

Selain itu, Atip berdalih faktor yang mempengaruhi penurunan jumlah siswa di setiap daerah sangat beragam. "Beberapa sebabnya tentunya banyak sekali, sehingga tidak spesifik bisa disebutkan (alasannya)," ujar dia. 

Sebelumnya, Kepala SDN Grogol Utara 05 Pagi, Agung Tri, mengungkap sekolahnya membuka kuota dua kelas dengan kapasitas maksimal sekitar 64 siswa. Jumlah kuota tersebut disesuaikan dengan rombel yang lulus dari kelas 6 pada tahun ajar sebelumnya. 

Namun, dari proses penerimaan peserta didik baru, SDN Grogol Utara hanya mendapatkan 30 siswa sehingga hanya membentuk satu rombongan belajar. “Harusnya kan 32 maksimal per kelas, tapi karena sedikit yang masuk, kemarin kami hanya dapat 30 siswa saja," ujar Agung saat ditemui di sekolah pada Senin, 13 Juli 2026.

Menurut Agung, berdasarkan informasi yang dia peroleh dari Dinas Pendidikan Jakarta, penurunan jumlah siswa baru tidak hanya terjadi di SDN Grogol Utara 05 Pagi. Sejumlah sekolah dasar negeri di Jakarta lain juga mengalami kondisi serupa. 

Bahkan, masih terdapat sekolah yang belum memenuhi daya tampung hingga tahap lanjutan penerimaan peserta didik baru. "Memang berkurang. Berarti ada penurunan. Banyak sekolah sampai puluhan ribu itu di tahap dua yang belum terisi," kata Agung.

Tempo telah berupaya mengkonfirmasi data penurunan jumlah siswa baru di sekolah dasar negeri di Jakarta  kepada Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana. Namun, hingga berita ini ditulis, pesan konfirmasi Tempo belum mendapat respons.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online